Hari Kartini di Jepara dirayakan begitu spesial oleh segenap penduduk kota kecil di ujung utara pulau jawa tersebut. Sebagai warga lokal, saya merasa terharu ketika melihat sosok perempuan di Jepara yang penuh dengan semangat menyambut dan merayakan hari tersebut sebagai hari kebangkitan emansipasi kaum Hawa tersebut. Pada hari Jumat 21 April 2017, teman kami mas Budi mengabadikan momen upacara memperingati hari kartini yang diselenggarakan di depan RSUD Kartini Jepara.

Tidak hanya perempuan jepara saya yang terlihat pada acara tersebut, tetapi beberapa wanita dari luar negeri juga terlihat memakai kebaya dalam menyambut hari kartini. Mereka terlihat begitu bahagia mengikuti setiap sesi acara yang diadakan setiap tahun. Secara rinci, saya tidak tahu jam berapa acara tersebut berlangsung karena memang posisi saya yang masih di Manado membuat saya melewatkan beberapa acara sakral yang menunjukkan adat dan ciri khas dari kota asal Kartini.

Suasana upacara terlihat begitu hikmat penuh dengan penghayatan membayangkan betapa terkekang pada masa itu. Kondisi tersebut menggerakkan hati Kartini untuk melakukan sesuatu dan kita semua bisa melihat hasilnya pada masa sekarang ini. Berkat surat-suratnya terhadap teman-teman yang ada di Eropa, Kartini menceritakan keadaan wanita di Indonesia yang tidak memiliki kebebasan dalam berpendapat, bekerja dan dalam bentuk aktifitas yang sangat dibatasi.

Putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Kartini sempat mendirikan sekolah yang khusus mengajarkan ilmu pengetahuan, tata krama dan berbagai macam ketrampilan yang harus dimiliki oleh wanita-wanita muda saat itu.

Beberapa foto ini diambil oleh sahabat kita Kanal Budiarto ketika sedang berlangsung Upacara Peringatan hari Kartini:

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY